Cukupkanlah
Siang itu aku membiarkan kepalaku merebah di atas meja kerja. Pusing sekali rasanya. Di samping tugas-tugas yang masih jauh dari kata selesai, muncul juga pikiran-pikiran lain yang berputar tanpa henti.
Apa yang aku kerjakan selama ini? Sesemua yang aku miliki, sudahkah berarti? Sudahkah bermanfaat bagi orang lain? Sudahkah Allah ridhoi?
Aku mencoba mengangkat kepala. Menatap layar laptop. Masih berat rasanya untuk mulai mengerjakan lagi.
Lalu tiba-tiba aku teringat suara ibu.
“Le, mungkin kamu kelak akan lebih berada dari ibu dan bapakmu sekarang. Jika pun tidak, ibu dan bapak juga tidak mengapa. Ibu sama bapak tetap bangga.”
Ibu menarik napas sebentar.
“Pesen ibu, syukuri apapun kamu adanya. Mau kaya, berkecukupan, maupun kekurangan. Karena sejatinya kita ini papa di hadapan Yang Maha Kaya. Semua yang kita miliki hanyalah titipan yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Entah itu dititipin banyak ataupun sedikit, sesemuanya akan dipertanyakan.”
Aku memandanginya lekat waktu itu.
“Jadi pesen ibu, niatkan semua lillahi ta’alaa ya, Le. Karena sesemua yang lillah akan bernilai berkah.”
Ibu tersenyum tipis.
“Untuk sesemua yang kamu miliki, cukupkanlah. Jangan berlebihan. Hiduplah sederhana.”
Lalu beliau menambahkan, pelan sekali, seperti bicara pada dirinya sendiri juga:
“Sederhanalah dalam hidup, tetapi tidak dalam berbuat baik.”
Aku tersenyum dan langsung memeluknya kala itu.
“Maaf ya Le, ibu cuman bisa ninggali kamu nasehat. Yang semoga saat ibu bapak sudah tidak ada nanti, ini bisa lebih berharga dari tinggalan harta yang ibu bapak punya.”
Aku mengangkat kepala dari meja kerja.
Layar laptop masih menyala. Tugas-tugas masih menunggu. Tapi rasanya sedikit lebih ringan sekarang.
Nasehat itu — suara itu — tidak pernah benar-benar pergi.
Meskipun mereka yang mengucapkannya sudah.




